Gempabumi Unik Swarm Jailolo

swaramalut.com,Ternate

Maluku Utara merupakan Provinsi dengan kekayaan alam yang sangat luar biasa, dari sumber daya alam berupa barang tambang emas, nikel dan lainnya, sangat menawan kekayaan alam Maluku Utara ini, belum lagi sumber daya hayati yang berada diatas bumi Maluku Utara ini, mulai kekayaan hutan dan lautan yang sangat melimpah, namun dibalik itu semua terdapat sebuah ironi bahwa selain kekayaan alam yang dilimpahkan Allah SWT, wilayah ini juga memiliki intensitas bencana alam cukup tinggi, terutama bencana alam kebumian. Kondisi ini dilihat dari seringnya bencana alam baik yang merusak ataupun kurang merusak.

Gempabumi

Gempabumi merupakan aktifitas terlepasnya akumulasi energy yang tersimpan dari dalam bumi. Energy ini diakibatkan aktifitas tektonik yang kemudian tertahan oleh batuan pada zona asperity, secara teori batuan yang kuat akan mampu menahan tekanan diberikan oleh lempeng lempeng yang terus bergerak akibat adanya arus konveksi pada lapisan mantel, akibatnya akumulasi energy yang tersimpan pada wilayah ini juga besar sehingga saat batuan melepaskan energinya berupa gempabumi, akan menghasilkan kekuatan yang besar, begitu pula sebaliknya.

Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi gempa bisa dirasakan ataukah tidak, yang pertama adalah besarnya energy yang dilepaskan, kita tentu sangat akrab dengan istilah Magnitude Skala Righter, hal ini dikaitkan dengan kekuatan energi gempa  yang terjadi, semakin besar kekuatan gempa tersebut maka semakin besar pula kemungkinan gempa tersebut dapat dirasakan. Kemudian yang kedua, lokasi terjadinya gempa atau biasa dikenal dengan Episenter Gempa, apakah jauh dari permukiman penduduk ataukah dekat, semakin dekat lokasi episenter maka semakin besar pula kemungkinan terasa gempa tersebut dan yang ketiga adalah kedalaman suatu gempa, gempa terjadi jauh didalam perut bumi yang kemudian energinya bisa terasa di atas permukaan bumi sebagai gelombang seismik. Semakin dalam tempat gempa bumi berasal maka juga semakin sulit gempa itu dapat dirasakan. Jadi bukan hanya semata mata karena kekuatan gempa saja yang menentukan apakah gempa itu dirasakan kuat ataukah tidak

Sumber Gempa

Maluku Utara adalah wilayah dengan seting tektonik yang cukup rumit. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa lempengan yang mempengaruhi adanya akumulasi energy yang tersimpan berupa tegangan yang sewaktu waktu bisa terlepas menjadi gempabumi. Setidaknya ada 5 lempengan yang turut memberikan sumbangsih terhadap gempa di wilayah Maluku utara antara lain, lempeng mikro Laut Maluku, Lempeng Mikro Halmahera, Lempeng Sangihe, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, diwilayah Maluku Utara juga sangat dikenal dunia dengan Double Subduction (Subduksi Ganda) yang memang sangat unik. Di mana lempeng laut Maluku menunjam ke sisi sebelah barat dengan lempeng sangihe dan disebelah timur dengan lempeng Halmahera, hal ini menghasilkan 2 Island arc (Busur Kepulauan) saling berhadapan yang menjadikan wilayah ini menjadi sarang gempabumi. Namun terkadang ada beberapa hal yang terlepas dari pandangan kita bersama adanya salah satu zona gempa teraktif didunia yaitu patahan atau sesar naik punggungan mayau yang terletak tepat ditengah tengah laut Maluku yang memanjang dari utara keselatan. Di zona inilah sering sekali gempa itu terjadi. Dengan demikian setidaknya ada 3 sumber gempa di wilayah laut Maluku yaitu di Subduksi Busur Sangihe, Subduksi busur Halmahera dan Sesar naik Punggungan Mayau

SWARM JAILOLO

Pada tanggal 27 September 2017 pukul 22:09:02 WIT terjadi gempabumi dengan kekuatan 2.4 SR dengan pusat gempa 1.03 LU – 127.39 BT pada kedalaman 6 km dan dirasakan di Jailolo II-III MMI.  Setelah itu rentetan gembumi terus berlangsung, dari hasil monitoring BMKG hingga Minggu pagi 08 Oktober 2017 pukul 09:00 WIT telah terjadi sebanyak 2267 kali gempa dengan gempabumi terbanyak terjadi pada 28 September  yaitu 739 kali dan yang paling sedikit 45 kali pada tanggal 07 Oktober. Dari keseluruhan jumlah gempa 113 diantaranya

dilaporkan terasa dengan skala bervariasi antara II-V MMI. Gempabumi terbesar terjadi pada tanggal 28 September 2017 pukul 02:00:58 WIT dengan kekuatan 4.9 SR dengan pusat gempa 0.96 LU – 127.55 BT pada kedalaman 10 km dan dirasakan III-V MMI di sebagian besar Kabupaten/Kota Halmahera Barat, Halmahera Utara, Ternate dan Kota Tidore Kepulauan.

Berdasarkan karakteristik kegempaan, munculnya serangkaian aktivitas gempabumi yang kekuatannya kecil dan frekwensi kejadian sangat tinggi yang berlangsung dalam waktu relatif lama di suatu kawasan yang sangat lokal, tanpa ada gempabumi kuat sebagai gempabumi utama, maka aktivitas gempabumi semacam ini disebut aktivitas gempa swarm.  Berdasarkan data gempabumi 6 jam-an, sejak 27 September – 8 Oktober 2017 tampak telah terjadi penurunan aktivitas swarm signifikan walaupun belum sepenuhnya berakhir

Swarm Jailolo merupakan fenomena unik dan terus menjadi kajian dan perdebatan para ilmuwan. Ada beberapa hal yang menjadikan Swarm Jailolo terasa berbeda dari gempa gempa pada umumnya. Yang pertama, Swarm Jailolo memiliki tingkat intensitas dan frekwensi sangat tinggi dibandingkan gempa lain pada umumnya. Kedua swarm jailolo merupakan jenis gempa intraplate, dimana hiposenter gempa sangat dangkal sehingga dengan magnitude yang relative kecil hanya 2.5 pun bisa dirasakan penduduk.

Penutup

Bagi masyarakat Maluku Utara kondisi alam yang selalu kurang “bersahabat” ini merupakan konsekuensi yang harus diterima. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus dihadapi sebagai masyarakat yang tinggal di batas pertemuan lempeng tektonik.

Bagi kalangan ahli kebumian dan instansi terkait dengan pemantauan gempabumi, labilnya wilayah Maluku Utara secara tektonik merupakan tantangan untuk mencari jalan keluar, baik upaya mitigasi atau merancang sistem peringatan dini yang digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya memperkecil risiko apabila sewaktu-waktu terjadi gempabumi dan tsunami.

Disusun Oleh : Dimas Bambang, Staff BMKG Ternate

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *