Miris !!! Karena Beda Pilihan Di Pilbub Haltim 2020,Seorang Guru Ngaji Diduga Di Intimidasi Oknum ASN

SWARA HALTIM/HALTENG/TIKEP SWARA TERKINI

Swaramalut.com – Haltim

Berbeda pilihan politik itu merupakan hal yang wajar dalam sistem politik demokrasi. Kita tidak bisa memaksa pandangan dan pilihan politik seseorang.

Namun, sayangnya kini banyak pihak yang mulai memaksakan kehendak terkait pilihan politik. Seperti yang dialami oleh seorang guru ngaji di kabupaten halmahera timur (Haltim)ini.

Seorang guru di sebuah yayasan pendidikan Alkadri Bumi Maba(ABM) dikabarkan diintimidasioleh salah satu oknum ASN yakni Niksen Malicang yang tak lain merupakan sekertaris di dinas pariwisata dan kebudayaan (Disparbud) haltim.

Hal ini menggambarkan bahwa Politik Haltim saat ini sudah mulai memanas, sebab oknum Aparatur Negara Sipil (ASN) Kabupaten Halmahera Timur, mulai ikut mengambil bagian terlibat dalam perang politik dengan modus menggunakan kekuasaan jabatan serta mengatas namakan penguasa sehingga berdampak kepada para santri yang ada di pondok pengajian.

seperti yang kita ketahui bahwa Guru pengajian tersebut di intimidasi oleh Niksen Malicang pada jumaat, 27 september 2019 dengan kata – kata kasar, Niksen meminta agar Mubin beserta keluarga harus mengikuti pilihanya pada pilkada nanti sehingga sempat terjadi adu mulut, Bahkan Niksen mengancam akan membuat yayasan (Ujian Paket C, B dan A)  milik Mubin tidak akan berjalan lancar seperti biasa.

“Hari jumat Niksen datang ke pondok, beliau bilang ngana (Mubin) dengan ngana pekeluarga harus ikut pa saya. Kalu tarada ngana pe yayasan ini akan saya lapor sampe di pusat. Dan jangan dulu ngana bakuku belum tentu rekomendasi PDPI itu jatuh ke M. Nur Lasut, dan perlu ingat bangunan (pondok) ini masih dibawah kekuasan Bupati Haltim dan kalau tara percaya nanti ngana lia suda,” cerita Mubin meniru pernyataan Niksen dengan bahasa sehari-hari(daerah-red).

foto : Niksen Malicang sekertaris di dinas pariwisata dan kebudayaan (Disparbud) haltim

Terpisah dari itu tak lama kemudian jelang waktu beberapa hari pemilik yayasan yakni pengelola pondok tersebut berinisial (AI), mendapat telepon dari salah satu oknum ASN, yakni Kabid pendidikan dasar sebut saja Ida namanya, menanyakan keadaan pondok.

Kepada wartawa (03/10/2019) Mubin Abas seorang guru pengajian pada pondok tersebut, mengatakan “Saya didatangi oleh salah satu rekan saya yakni Al, katanya Ibu Ida di Dinas Pendidikan telpon suru saya kaluar dari pondok, barang-barang yang di pondok juga suru dikembalikan ke dinas, saya pun berpikir jangan sampai masalah ini terbawa – bawa dengan Al rekan saya akhirnya saya memilih keluar,” ungkapnya

Lanjut Mubin “Saya tinggal di pondok itu karena saya dipercayakan untuk mengajarkan anak-anak baca Al-Qur’an, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang mengajar di pondok itu sehingga pondok di tutup sementara waktu, saya bersama istri dan anak-anak saya langsung angkat barang dan keluar dari pondok tersebut,” bebernya.

Saat dikonfirmasi AI pun menceritakan percakapan antara AI dengan Ida, AI mengatakan (“Halo Al itu mubin masih tinggal di pondok.?,”) tanya Ida Kepada AI dalam percakapam tersebut, dan AI pun menjawab (“iya mubin tinggal di pondok sebagai guru ngaji,”) ungkap AI saat dikonfirmasi via telepon

Mubin bersama istri dan anak-anaknya saat ini tingggal disalah satu kerabatnya yang berada di Desa Soagimalah, akibat dari pengusiran itu, sebanyak 70 sekian anak santri tak lagi terurus, bahkan tidak  bisa belajar mengaji karena tidak ada lagi guru  yang datang untuk mengajar selain Mubin.

Dari upaya konfirmasi awak media, Niksen saat ditemui di ruang kerjanya membantah jika apa yang disampaikan oleh Mubin itu tidak benar.

Menurutnya niksen mengakui dirinya sering mendatangi pondok pengajian tersebut dengan alasan lembaga PKBM yang ada di tempat tersebut. “Saya tidak pernah ngomong deng orang, jangan langsung seperti itu menuduh saya seakan-akan bapak menuduh saya begitu.Makanya saya mau tau siapa yang kase informasi saya tidak pernah mengajak orang untuk ikut ke siapa-siapa itu tidak pernah titik sampai di situ saya tidak pernah bilang bapak Mubin harus bergabung dengan saya,” bantahnya.

Menurut Niksen  waktu itu (Jumat, 27 September) dirinya tidak pernah bertatap muka dengan Mubin. Dirinya datang ke pondok pengajian hanya untuk memperbaiki lembaganya yang juga ada di dalam pondok tersebut. “Saya tidak tatap muka dengan Mubin saya hanya pasang papan lembaga benahi rak-rak buku, kebutulan dong (Mubin) ada berapa orang tapi saya tidak tau ceritanya soal apa dan untuk ajak bergabung itu tidak ada,”akunya.

Selain itu dari hasil konfirmasi kepada Kabid Pendidikan Dasar yakni Ida membenarkan bahwa AI ditelepon pada selasa, (1/10) pukul 10.00 Wit namun didalam percakan via telepon tersebut tidak ada kata pengusiran. Ida juha menjelaskan “Benar memang saya telepon AI tapi dalam percakapan kami itu saya hanya mempertanyakan kenapa bantuan kami berikan digunakan secara pribadi dalam bentuk usaha,” tutupnya mengakhiri..#Ipul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *