SWARAMALUT.COM HALUT- Mantan pengurus Partai Golkar Kabupaten Halmahera Utara, Tiser Tebi, mengemukakan tiga alasan pokok mengapa Dr. Piet Hein Babua dinilai sebagai sosok yang paling tepat untuk memimpin DPC Golkar Halmahera Utara pada Musda mendatang.
Seluruh alasan tersebut berpusat pada kesesuaian visi dan langkah Piet Hein Babua dengan agenda strategis nasional maupun pembangunan daerah, khususnya program hilirisasi.
Pernyataan lengkap Tiser Tebi disampaikan kepada awak media di Tobelo, pada Minggu (4/10/2026).
Alasan Pertama, Sejalan dengan Agenda Nasional Hilirisasi atau keselarasan arah kebijakan Piet Hein Babua. Menurut Tiser, beberapa waktu lalu, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia resmi dilantik oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Di saat yang sama, Piet Hein Babua telah menjalankan program hilirisasi yang digagas pemerintah pusat dan membuktikannya dengan mendatangkan sejumlah program strategis ke Halmahera Utara.
“Artinya, Piet Hein Babua sudah lebih dulu melaksanakan apa yang kini menjadi mandat pusat. Beliau telah membuktikannya melalui program-program yang dibawa ke tanah Halmahera,” ujar Tiser.
Alasan Kedua, Rekam Jejak Nyata dan Sinergi Pembangunan. Sebagai Ketua Harian DPC Golkar Halut sekaligus Bupati Halmahera Utara yang masih menjabat, Piet Hein Babua dinilai sangat sejalan dengan cita-cita partai maupun pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Bukti nyatanya, baru-baru ini Piet Hein Babua kembali diundang Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mempresentasikan program hilirisasi sekaligus menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah perguruan tinggi besar di Indonesia.
“Sebagai Bupati, beliau senantiasa melahirkan terobosan luar biasa, menyelaraskan program pemerintah pusat dengan kebutuhan dan kenyataan di daerah,” tegas Tiser.
Alasan Ketiga, Koneksi Langsung dengan Kebijakan Nasional. Tiser Tebi yang juga adalah tokoh mudah Halmahera Utara menerangkan apabila Piet Hein Babua terpilih menjadi Ketua DPC Golkar Halut, maka secara politik hubungan kepartaian dengan Menteri Koordinator Hilirisasi Bahlil Lahadalia akan semakin kuat dan tepat sasaran.
Hal ini menjadikan agenda hilirisasi tidak sekadar jargon, melainkan terhubung langsung dari tingkat kebijakan nasional hingga pelaksanaan di daerah.
Tiser menegaskan, hilirisasi kini bukan sekadar istilah pembangunan, melainkan agenda strategis untuk memastikan kekayaan sumber daya alam tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi nilai tambah ekonomi, industri, lapangan kerja, dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Bagi Halmahera Utara sebagai daerah penghasil komoditas utama seperti kelapa, tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, melainkan mengolahnya menjadi produk bernilai jual tinggi agar manfaatnya dirasakan langsung oleh warga.
Di sinilah peran Piet Hein Babua menjadi sangat relevan. Ia tidak hanya memahami arah kebijakan nasional, tetapi telah mempraktikkannya di tingkat daerah.
“Jika Bahlil membawa agenda hilirisasi di tingkat kebijakan nasional, maka Piet Hein Babua memiliki pengalaman menerjemahkan gagasan tersebut menjadi pembangunan nyata di daerah. Benang merahnya bukan sekadar hubungan politik, melainkan kesamaan arah dari sumber daya alam menjadi kesejahteraan rakyat,” ungkap Tiser.
Apabila mendapat kepercayaan memimpin Golkar Halut, agenda hilirisasi dapat menjadi pijakan utama memperkuat petani, mendorong industri pengolahan, membuka lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat fondasi ekonomi daerah.
“Hilirisasi pada akhirnya bukan hanya soal mengolah kelapa, melainkan bagaimana sebuah daerah mengolah kekayaannya menjadi masa depan. Dari kebijakan ke daerah, dari komoditas ke industri, dari hilirisasi ke kesejahteraan,” tambahnya.
Tiser berharap seluruh elemen di lingkungan Golkar Halmahera Utara secara sadar dan tegas menetapkan Piet Hein Babua sebagai nakhoda baru partai. Langkah ini, menurutnya, adalah pilihan yang paling tepat untuk menyatukan visi pembangunan daerah dengan arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia.
“Di situlah benang merah menghubungkan Bahlil, Golkar, Piet Hein Babua, dan masa depan ekonomi Halmahera Utara. Semuanya menemukan satu arah yang sama,” pungkas Tiser Tebi. (*)











