Swaramalut.com TERNATE – Jaringan Edi Langkara(Elang) 2024, Muis Djamin, menilai persepsi pengamat komunikasi politik Doktor Helmi Alhadar yang menyatakan di salah satu media online bahwa tuntutan para guru dan kepala sekolah di Halmahera Tengah baru-baru ini dapat merugikan Elang adalah keliru dan tendensius.
Muis menegaskan, sebagai seorang pengamat, Helmi semestinya melihat masalah secara holistik dan jelas. Jangan hanya melihat dari satu sisi tertentu yang cenderung dan terkesan menyerang pribadi Elang.
“Apa yang disampaikan Pak Helmi pada salah satu media online itu sangat bias dan penuh tendensius. Mestinya sebagai pengamat harus lebih objektif bukan lebih arah yang subjektif” jelasnya dalam rilis yang diterima, Rabu (9/3/2022).
Ia juga menyampaikan, pernyataan yang di lontarkan dosen Muhammadiyah itu, kata dia, telah meninjukan sikap reaktif yang seolah-olah menggambarkan bahwa Elang itu sosok yang arogan dan suka marah-marah.
Padahal, kalau dalam video yang sempat beredar itu sebenarnya, Elang memberikan ketegasan kepada para kepala sekolah serta menjelaskan tentang fungsi dan pengabdian seorang aparatur dilingkungan pendidikan.
“Kita tidak lagi berada pada kondisi politik dimana instrumen negara dimobilasi untuk kepentingan politik kelompok. Ini era demokrasi yang dimana kedaulatan ada di tangan rakyat, sehinga dalam kontestasi politik Elang harus memilih bersama rakyat, karena itu tuntutan demokrasi bukan sikap arogan.”ujarnya
Lanjut Sekretaris Kosgoro Malut ini menjelaskan, guru dan kepala sekolah merupakan bagian dari ASN. Apalagi sudah ditegaskan dalam undang-undang mereka tidak bisa terlibat dalam politik praktis.
Ada resiko berupa sanksi yang akan ditanggung jika terlibat dalam politik praktis. Untuk itu, Elang sebagai seorang politisi dan kepala daerah yang bijak.
Tambahnya” di saat itu dirinya menerangkan, guru sebagai pendidik yang profesional harus bertanggungjawab dan lebih fokus pada instrumen bagaimana mencerahkan anak bangsa, bukan soal keberpihakan pada pilkada.
.”Inti pesan pak Bupati ada di situ, karena tugas negara adalah mencerdaskan rakyatnya. Jangan di plintir ke yang lain. Jadi, sangat tidak rasional jika pesan pak Elang itu kemudian sebut arogan. Bagi saya ini salah tafsir atau salah dipahami karena tidak secara utuh mengikuti apa yg disampaikan oleh pak Bupati pada waktu itu.”pungkasnya..#tim/red












