banner 140x600
banner 140x600
SWARA DAERAH

Dorong Penguatan UMKM, BI Maluku Utara Gelar Festival Salawaku 2026

×

Dorong Penguatan UMKM, BI Maluku Utara Gelar Festival Salawaku 2026

Share this article

SwaraMalut.com TERNATE – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Festival Salawaku 2026 yang mengintegrasikan potensi budaya, kreativitas, dan ekonomi daerah, yang bertempat di benteng Orange, pada Jumat(6/11/2026).

Festival yang dipusatkan di Benteng Oranje, Kota Ternate, tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-776 Kota Ternate. Kegiatan ini mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya, Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan festival tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat daya tahan UMKM sekaligus memperluas peluang pengembangan ekonomi kreatif di daerah.

Menurutnya, UMKM memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan nasional.

“UMKM memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat. Ketika tekanan ekonomi datang, UMKM menjadi salah satu sektor yang menjaga roda perekonomian masyarakat tetap berputar,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Maluku Utara mencapai sekitar 194.000 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja hingga 584.000 orang. Namun, sekitar 95 persen di antaranya masih berada pada skala mikro.

Selain itu, persebaran UMKM masih terkonsentrasi di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Selatan dengan porsi sekitar 60 persen.

Handi mengatakan, Maluku Utara memiliki potensi komoditas unggulan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, di antaranya perikanan tangkap seperti tuna, cakalang, dan tongkol, rumput laut, pala, cengkih, serta kelapa dan kopra.

“Maluku Utara memiliki potensi komoditas unggulan, mulai dari perikanan tangkap, rumput laut, pala, cengkih, hingga kelapa dan kopra yang perlu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” katanya.

Potensi tersebut perlu didukung penguatan hilirisasi, akses pasar, serta rantai distribusi agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya pelaku usaha di wilayah pedesaan dan pulau-pulau kecil.

Di sisi lain, pengembangan UMKM masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan pembiayaan, tingginya biaya distribusi antarpulau, minimnya fasilitas penyimpanan berpendingin atau cold storage, serta kerentanan pasokan akibat kondisi cuaca.

Handi menyebutkan, pangsa kredit UMKM di Maluku Utara pada 2026 baru mencapai 12,17 persen, masih di bawah target nasional sebesar 30 persen.

“Pangsa kredit UMKM di Maluku Utara saat ini baru mencapai 12,17 persen. Karena itu, diperlukan sinergi berbagai pihak untuk memperluas akses pembiayaan dan mendorong UMKM agar naik kelas,” ungkap Handi

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bank Indonesia mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni penguatan kelembagaan dan ekosistem usaha (korporatisasi), peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta perluasan akses pembiayaan.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan Festival Salawaku 2026 tidak sekadar menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga momentum memperkuat daya saing UMKM melalui inovasi produk, perluasan pasar, dan pemanfaatan teknologi digital.

“Festival Salawaku tidak sekadar menjadi panggung untuk menampilkan identitas dan kebanggaan daerah, tetapi juga diharapkan menjadi katalis pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan memperluas akses pasar,” kata Filianingsih.

Ia mengatakan, perekonomian Maluku Utara pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 15,35 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut perlu diikuti pemerataan manfaat ekonomi melalui penciptaan kesempatan usaha, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Filianingsih juga menekankan pentingnya digitalisasi bagi pelaku UMKM, salah satunya melalui perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mempermudah transaksi sekaligus meningkatkan tata kelola keuangan usaha.

“Tantangan kita ke depan bukan hanya memperluas kepemilikan QRIS, tetapi juga meningkatkan penggunaannya secara aktif dan berkelanjutan dalam aktivitas usaha sehari-hari,” ujarnya.

Menurut dia, penggunaan QRIS tidak hanya memberikan kemudahan pembayaran bagi konsumen, tetapi juga membantu pelaku usaha melakukan pencatatan transaksi secara lebih tertib sehingga mendorong pengelolaan usaha yang profesional dan berdaya saing.

Festival Salawaku 2026 menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari pameran dan bazar UMKM, pertunjukan seni budaya, kompetisi kreativitas, talkshow, edukasi, hingga kegiatan ekonomi kreatif dan hiburan masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan program Road to Salawaku yang mencakup pelatihan digitalisasi pangan, kewirausahaan, penguatan ekonomi pesantren, pengembangan pariwisata, serta pelatihan bagi penenun pemula.

Penyelenggaraan festival di Benteng Oranje juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi. Lokasi bersejarah tersebut dipilih untuk memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat Maluku Utara.

Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia berharap pelaku UMKM dan generasi muda dapat meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan teknologi digital, memperluas jaringan pemasaran, serta mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal.#ID/red.

banner 336x280 banner 336x280
banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!