banner 140x600
banner 140x600
SWARA DAERAH

Tiga Lembaga Perempuan Gelar Seminar Penyakit Autoimun

99
×

Tiga Lembaga Perempuan Gelar Seminar Penyakit Autoimun

Share this article
banner 336x280

Swaramalut.com, Ternate

Tiga lembaga peduli perempuan dan anak, Clerry Cleffy Institute (CCI), Marisza Cardoba Foundation (MCF), dan Firda Athira Foundation (FAF) mengadakan seminar edukasi tentang penyakit autoimun yang kini menjadi epidemi di berbagai belahan dunia.

Kegiatan yang dikemas dengan bertajuk “Autoimun Berbagi Bahagia (ABB) Weekend Market” itu digelar di 10 kota besar dan dengan harapan dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk mengenal dan menerapkan pola hidup sehat menyeluruh sekaligus memberikan dukungan kepada ODAI (orang dengan autoimun) agar dapat tetap aktif dan berdaya.

Ternate berkesempatan menjadi tuan rumah ke-4. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dafam Hotel, Kelurahan Jati, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Minggu (25/08/2019)

Dewan pengawas Prof.Dr. dr. Aru W. Sudoyo, mengatakan Autoimun, adalah sebuah kondisi kesehatan di mana sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benda asing yang membahayakan tubuh dengan bagian tubuh penderitanya. Sehingga menyebabkan keluhan kesehatan kronis bahkan kematian jika menyerang organ yang memiliki peran vital.

“Autoimun memang penyakit yang mematikan namun bisa dikendalikan. Penyebabnya akibat terpapar bahan-bahan kimia atau yang dianggap tidak natural oleh tubuh,”ujar Prof Aru W kepada awak media pagi tadi.

“Sumber bahan-bahan kimia itu antara lain makanan-makanan yang ada di sekitar kita, yang sangat logis menjadi perangsang rusaknya anti bodi dalam tubuh. Dua generasi lalu, penyakit autoimun sangat langka. Tapi sekarang, jumlahnya meningkat tajam dan kebanyakan generasi muda yang menderitanya, “jelas Prof. Aru.

Terpisah Firda Athira sebagai lembaga kesehat mengatakan, celakanya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit berbahaya ini masih dirasakan kurang. Pada hal dikuat penderitanya di Indonesia bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta orang.

“Sekitar 80 persen penyintas autoimun adalah perempuan usia produktif, dengangejala yang mirip dengan penyakit lainnya seperti nyeri sendi, mudah lelah, rambut rontok, sering sariawan, demam yang tidak beraturan, dan sebagainya. Hal ini di pengaruhi oleh faktor genetik, namun gaya hidup dan faktor lingkungan memegang peranan jauh lebih penting. Belum ada obat yang dapat memulihkan seseorang dari kondisi autoimun”.kata Firda Athira

Penyakit ini dapat dicegah atau dikontrol dengan penerapan pola hidup sehat menyeluruh. Dua lembaga masyarakat, yakni Firda Athira Foundation (FAF) yang didirikan seorang anak muda generasi milenial yang amat peduli terhadap penyakit autoimun, Firdha Athira, dan Clerry Cleffy Institute (CCI) yang di dirikan psikolog perdamaian

“dukungannya dan berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Program Nasional Senyum Indonesiaku, dengan dukungan teman dan sahabat, penderita autoimun, khususnya sesama anak muda, akan punya daya juang lebih dan menganggap apa yang di deritanya bukan sebuah halangan untuk menggap di masa depan dan meraih cita-citanya, “ujar Firdha Athira.

Senada dengan Firdha, psikolog perdamaian yang juga inisiator kegiatan, Dwi Prihandini juga menyoroti pentingnya edukasi tentang autoimun dan melakukan ini siatif agar komunitas autoimun mendapat dukungan dan hak yang sama untuk lebih berdaya dalam kehidupan di masyarakat.

“Di Indonesia, Autoimun telah menjadi epidemi dengan lonjakan angka penderita yang tajam, Prihan dini di butuhkan edukasi massif agar masyarakat dapat mengenali keberadaan autoimun dan mewaspadainya melalui penerapan pola hidup sehat menyeluruh. Autoimun adalah ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia. Orang dengan Autoimun atau ODAI produktivitasnya menurun, hanya mampu beraktivitas 5-6 jam sehari”ucap Firda Athira

Is menambahkan, bayangkan bila fenomena ini terus meningkat di Indonesia, pemerintah akan semakin kewalahan menanggung anggaran kesehatan yang begitu besar, apa lagi penyakit ini belum dapat disembuhkan.

“Penderita Autoimun di Amerika Serikat berjumlah 50 juta orang, namun jumlah penderi di Indonesia yang berhasil kami himpun dan berdayakan baru mencapai 5.000 orang, karena kendala data valid dari pemerintah yang belum tersedia.

“Hal ini bisa jadi di sebabkan karena gejala autoimun mirip dengan penyakit lainnya, dan masyarakat juga enggan memeriksakan penyakitnya secara menyeluruh karena khawatir masalah pembiayaan yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh BPJS,”ucapnya.

Oleh karena itu langkah terbijak adalah sejak dini masyarakat Indonesia sudah harus menerapkan lima dasar hidup sehat atau pola hidup sehat menyeluruh yang terbukti telah berhasil meningkatkan kualitas hidup para ODAI, shingga dapat kembali beraktivitas normal, yang pastinya juga akan sangat bermanfaat untuk kualitas kesehatan masyarakat luas.

Marisza Cardoba, pendiri Marisza Cardoba Foundation atau lembaga masyarakat yang aktif mengedukasi masyarakat tentang autoimun dan Lima Dasar Hidup Sehat, serta pemberdayaan penyintas autoimun..# MI

banner 336x280
banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!